Wuaduuh....Pemilihan presiden yang lalu bisa jadi puncak kebisingan. Dalam gaduh kebisingan, masyarakat melecehkan janji-janji, termasuk yang disebut "kontrak politik". Bahan pokok murah, pupuk gratis, petani langsung sejahtera, nelayan jadi kaya, pedagang diberi modal, uang semiliar rupiah untuk satu desa, laptop untuk mahasiswa. Semuanya belum dicerna, masyarakat sudah mencibir duluan: "Itu lagu lama minta dukungan. Kalau saja janji itu dilaksanakan, masyarakat sudah sejahtera, bukankah bupati dan gubernur sudah terpilih?"
Semakin banyak tokoh mengumbar janji, semakin ditolak, karena kepercayaan terhadap tokoh politik sudah runtuh. Tentu, ini bukanlah kesalahan sang tokoh yang baru, melainkan kesalahan beruntun tokoh-tokoh sebelumnya. Dari sudut ini bisa dimengerti kenapa SBY-Boediono menang mutlak. Masyarakat sepertinya tak ingin ada tokoh "yang coba-coba". Kepopuleran SBY sudah tertanam jauh di hati masyarakat, ditambah lagi negeri yang "aman-aman saja tanpa gejolak". Bagi orang desa, semakin SBY diserang, semakin mantap didukung karena para penyerangnya juga sudah dikenal. Ada komentar yang saya dengar, maaf, berbau kampungan: "Dipasangkan dengan sandal jepit pun SBY pasti menang."
Saya setuju dengan pendapat Bung Putu Setia ini

0 komentar for this post